Berkali-kali ku lihat jam tangan yang sengaja ku gantungkan di dinding kamar oranye lembut itu. Bukan karena tidak ada jam dinding, tetapi jam tangan lebih minimalis menurutku. Jam dinding yang bulat itu rasanya justru membuat sesak penglihatanku. Ditambah lagi detaknya yang konvensional. Cukup air keranku saja yang menetes.

Berkali-kali ku lihat jam tangan itu, berkali-kali pula ku hembuskan napas. Sebentar lagi. Sebentar lagi. Masih lama. Masih ada waktu. Ya, kata-kata yang selama ini selalu meracuni pikiran bawah sadarku. Sedari dulu aku mengakui kebiasaan “buruk” ini memang sangat berbahaya. Akan tetapi, dia seakan memberi suntik energi saat menuju “detik-detik terakhir”.

Deadliner? Kok keren, sih? Ah, masa iya?

Menjadi seorang deadliner tidak selamanya buruk dan tidak selamanya pula baik. Memang, semua hal itu pasti seimbang. Baiknya, seorang deadliner mampu berkonsentrasi penuh dan memainkan imajinasinya pada saat dirinya merasa, “Ya, inilah waktu yang tepat!”.

Kabar buruknya, ia akan melewatkan berbagai kesempatan untuk bisa mengulang,  memperbaiki, dan membaca kembali seandainya masih diberi waktu. Akan tetapi, dasarnya deadliner ya memang deadliner hehe. Setelah diberi waktu kembali, ia akan melakukan hal-hal lain terlebih dahulu, sebelum tiba di “detik-detik terakhir” itu.

Apa sih itu deadliner? 

Menurut saya, seorang deadliner merupakan orang yang mampu bekerja baik di saat telah mendekati batas waktu yang ditentukan. Misalnya, seorang pelajar akan ngebut membuat tugasnya dalam semalam, sementara besok pagi harus dikumpulkan. Kebiasaan ini bukan tanpa alasan.

Bagi sebagian orang yang tidak paham akan menganggap seorang deadliner harus dihindari dan tidak dilibatkan dalam kerja sama kelompok, namun bagi sang deadliner sendiri, ia merasa bahwa potensi terbaiknya akan muncul pada saat telah terdesak. Memang, hal ini menjadi pro dan kontra tentang pekerjaan yang dihasilkan. Tapi, tau ga sih, katanya, katanya lho, deadliner itu kreatif wkwk. Percaya ga percaya.

Kamu seorang deadliner?

Saya, entah ini kabar baik atau kabar buruk, adalah seorang deadliner garis keras. Sejak kapan, Mut? Sejak saya mengenal kata “begadang”. Hahaha, lupa juga sih sejak kapan. Tapi ini sudah berlangsung lama. Sunguh sangat tidak menyenangkan.

Disaat teman-teman lain telah mulai membuat paper dan saya masih sibuk berselancar, mencari-cari judul terbaik. Ah, memang dasarnya perfeksionis, menginginkan sesuatu yang sempurna, padahal sadar bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, selain sang Pemilik dunia, Allah Azza wa Jala.

Di detik ini pun, di tengah kemelut suasana UTS (Ujian Tengah Semester) dan kesibukan lalalili lainnya, saya lebih memilih untuk membenahi tulisan-tulisan dan menorehkan buah pikiran singkat ini disini, di kamu, iya kamu. Padahal masih banyak bahan UTS yang belum disentuh. Mut, come on!

Mengapa harus menjadi seorang Deadliner?

Bukan harus menjadi juga sih, tapi saya tidak tahu, terjadi begitu saja. Asik. Iseng-iseng, saya pun pernah mencari pembelaan diri tentang seorang deadliner. Kemudian saya menemukan beberapa artikel yang mengatakan bahwa kalau golongan darah O memang terkenal sebagai tipe yang “ngaret abis” dan itu benar. Saya pun tertawa girang, sejurus kemudian menangis tersedu. Ngaret kok bangga.

Sebenarnya saya tidak ingin menjadi seorang deadliner. Siapa pun pasti tidak ingin. Akan tetapi, karena kebiasaan ini telah mendarah daging (duilee) sehingga saya merasa baik-baik saja dengan kebiasaan ini. Terlebih lagi dengan anggapan bahwa, “I am a deadliner and that is so awesome!!”. Toh juga selama ini tidak ada kendala apa-apa yang berarti (acakiyaa). Hehe banyak kendala dan penyesalan sih. Banyak. Banyaaak T^T

Pikir-pikir lagi menjadi seorang deadliner

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,” (Q.S Al-Insyirah : 7)

Saya pun terdiam saat tak sengaja menemukan kutipan ayat suci Al-Quran dalam sebuah tulisan. Bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan urusan yang lain seandainya urusan yang ini belum selesai? Lihat, Allah saja mengatakan dalam Al-Quran  kepada Nabi Muhammad SAW untuk memberi peringatan kepada hamba-Nya untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Saya pun tertampar.

Saya kembali merenung, memikirkan kejadian yang telah lalu. Memang banyak kesempatan yang saya lewatkan karena kebiasaan yang “indah” ini. Belum lagi efek stres yang ditimbulkan. Napas yang lebih banyak dikeluarkan dari biasanya. Mata yang harus bertahan lebih lama dan uang yang harus direlakan untuk mengisi perut keroncongan. So, my friends, trust me, never delay your work because work on the deadline is really DEAD! (wuiihh)

Kesimpulan

Saran untuk teman-teman yang juga merasa bahwa dirinya adalah seorang DEADLINER SEJATI atau akan/ ingin menjadi deadliner, coba pikir kembali, apakah memang benar menjadi seorang deadliner itu bisa membuat hidupmu lebih tenang atau memberikan banyak manfaat. Jika itu benar, maka tidak ada salahnya untuk melanjutkan perjuangan itu. Akan tetapi, perlu diingat untuk tetap menjaga kesehatan. Karena sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Baiklah, saya rasa sekian curhatan pagi yang (ngelirik jendela) sedikit cerah ini. Semoga postingan kali ini memberikan pencerahan dan manfaat untuk tetap bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, memanfaatkan kesehatan yang masih diberikan, agar tiada penyesalan di kemudian hari.

Salam ceria,

@moedchu_